Rabu, 26 Juli 2017

THE AMAZING AWAITS #5

Dear kamu,


Maaf.... ibu belum terlalu berusaha untuk mendapatkanmu sayang. Sementara di sisi lain nafas ini harus trrbagi-bagi akan masalah dunia yang tak berkesudahan. Nanti jika kau disini, jika kau telah dapat berdiri sendiri, jangan pernah kau kendurkan semua mimpi dan impian mu sayang. Kau boleh terjatuh agar kau tahu rasanya sakit, kau boleh bersalah agar kau tau caranya memperbaiki dengan maaf dan khilaf. Kau boleh berpatah hati agar kau tau caranya untuk tetap kuat.

Diam dan berusaha menjadi baik-baik saja itu tidak cukup.  Merasakan betapanya dunia yang berat harus ada di punggung dan kepala mu. Kamu harus kuat. Kamu harus keras terhadap dirimu sendiri, bahwa tak ada satu pun di dunia ini yang dapat kau jadikan sandaran letih. Tuhan mu lah satu-satunya tempat sandaran hati pelipur lirih. 
Meski kau jua tak gentar berjuang, sadarlah hadangan di depan tetap tegar kau harus lebih berkobar. Kau boleh berjalan peoan tapi jangan kau tersilaukan indahnya fatamorgana dunia. Sayang, dunia kita tercipta dengan berpasangan pada berbagai hal dan perasaan. Dalam suka mu, kau harus bersyukur jangan pernah biarkan iman mu tersungkur. Dalam duka mu, kau harus tahu caranya menerima, bersadar, dan bangkit untuk berusaha serta tak lupa kumandangan doa mu pada Dia Maha Pemilik Kehidupan.


Jangan lengah anakku, kau adalah manusia sempurna ciptaanNya. Tapi, dunia membuat kita untuk lebih memaklumi arti kesempurnaan. 

Walau kita belum pernah bertemu
Tapi ibu selalu mencintai mu sayang.



If you could just feel me in u

Minggu, 04 Juni 2017

THE AMAZING AWAITS #4

Dear Anugrah yang belum kumiliki,

Kita gagal bertemu kali ini. Entah apa yang terjadi pada ibu, semuanya lagi lagi tangis memecah.
Pagi ini, ibu terkejut melihat bercak darah yang membatalkan puasa ibu dan juga memupuskan harapan untuk bertemu dengan mu malaikat kecil.

Padahal ini sudah lebih dari lima puluh hari dia tak datang, seperti mengganti harapan sesaat. Dokter bilang semua baik-baik saja, apakah benar baik-baik saja. Ibu begitu menjaga dengan besar harapan kau kan ada, hadir dalam rahim ini. Tuhan, apakah ada penyakit yang tak terdeteksi tangan hamba mu ini? Ku mohon berilah petunjuk Mu, agar aku dapat memperbaiki semuanya.



Aku merasa begitu bersalah Tuhan, aku harus bagaimana. Smentara ikhlas Mu dalam hati ini apakah benar ikhlas yang kurasakan? Aku terasa begitu sakit mematahkan hati ini sendiri, menyalahkan diri ii, berteriak pada diri agar mendengar apa yang terjadi di lubuk hati ini. Penantian 10 bulan 13 hari ini.

Kini, terasa begitu remuk di perut ini, terasa ada yang redam di punggung ini menahan sakit entah skait apa yang sebenarnya terjadi. Suamiku, dia hanya bisa menasehati, tanpa tahu pasti apa sebenrny yng kini kurasakan. Aku ingin berontak, aku ingin berlari, aku ingin mengetahu bahwa sakit apakah yang begitu terasa ini.

Sayang,

Aku terlalu merindukanmu
Tuhan bilang, itu tak baik.
Namun.... aku hanya bisa berbalik bersama luka yang terus menelisik.

Kamis, 01 Juni 2017

MY AMAZING AWAITS #3

Dear cintaku yang masih disimpan Allah,


Waaah gak kerasa udah hari ke enam puasa di bulan Ramadhan ini. Hmmm kamu harus tau yah betapa serunya ibu harus bangun lebih pagi untuk persiapan sahur ayah. Oiya sudah dua hari kemarin ayah sakit makanya ibu baru bisa kirim surat sekarang ke kamu sayang. Alhamdulillaj ayah udah sehat dan sudah muilai kerja lagi yippppiiii!!!

Honestly this is my very first year to be a wife in Ramadhan, and im so glad for it. 😇

Sayang, kamu kangen gak sama ibu? Ibu sih selalu hehehe. Setiap doa selalu terselip harapan ingin segera berjumpa dengan mu 😊.

Hari ini entah mengapa ibu mulai merasa 'berharap' akan kamu sayang, sebab ibu sudah tidak atau belum menstruasi lagi sejak pertengahan april kemarin 🤗. Dalam benak ingin sekali membeli alat test kehamilan, namun ibu sadar bahwa hati ini begtu mengharapkan hingga pasti mudah sekali bersedih jika hasilnya berkata sebaliknya 😌

Seharusnya ibu jangan berfikiran seperti itu yah, namun inilah ibu. SANGAT MENGHARAPKAN MU 😔

Semoga ibu dan ayah sehat selalu yah, supaya Gusti Allah cepat memberikan RidhoNya untuk segera mempertemukan kita 😇🙏🏼

MY AMAZING AWAITS #2

25 Mei 2017

Dear malaikatku,

Ini surat kedua ibu yah. Hari ini ibu dan ayah serta keluarga makan siang bersama betapa meriahnya nak. Andai kamu telah ada. Lagi-lagi ibu ngarep yah hehehe
Pulangnya kami mampir kerumah eyang kamu, silaturahim karena lusa insha Allah ramadhan.

Sebenarnya hari ini ibu sedih, ibu mudah sekali menangis. Ayah mu sudah kesekian kalinya tak pernah bisa mendengarkan ibu. Hari ini ibu melakukan tindakan ceroboh, semoga kamu terhindar dari sifat buruk ini yah.
Ya!! Ibu meninggalkan tas dirumah eyang alhasil harus balik lagi ke rumah eyang. Dan seperti biasa, Ayah mu tak bisa membendung marahnya. Mendiamkan ibu.

Sayang, kadang ibu merasa tidak cukup kapasitAs menjalani perjalanan ini. Perjalanan pernikahan ini, ibu tak merasa bahwa ibu berarti dihidup ayah. Apa mungkin karena kami begitu cepstnya memutuskan untuk menikah? Namun banyak pasangan oada zaman Nabi Muhammad SAW tidak ada yang melalu tahap pengenalan lama dan mereka menikah. Begitu pula ibu.

Ibu mencintai ayah mu nak, sepenuh hati ibu ingin berbakti menjadi seorsng istri dan kelak seorang ibu yang baik. Dan itu tidak mudah. Namun terkadang khilaf ini memenangkan hati. Terasa Ayah mu biasa saja tak begitu mencintai ibu. Tak ada yang spesial diantara hubungan kami. Acuh.
Begitu banyak suudzon yang tak harusnya tercurah. Ibu kehilangan ayah mu nak. Maafkan ibu yang begitu berusaha ingin menjadi yang terbaik, namun mungkin penuh keinginan dicintai dengan sama. Ibu banyak sekali kekurangannya. Mau kah kamu tetap menjadi anak ibu kelak sayang? Ibu mu ini tidak terlalu memiliki bakat yang dapst dibanggakan. Tapi insha Allah sgala demi kebaikan mu akan ibu perjuangkan nak. 

MY AMAZING AWAITS #1

Dear kamu,


Hanya kamu dan Allah yang tahu kapan kamu akan hadir diantara aku dan suamiku. Kita memang tak mengenal bahkan bertemu pun belum.  Terkadang menjadi sulit dan berat menghitung-hitung waktu dan harap yang tak berkesudahan menantikan kehadiranmu. Boleh aku minta izin untuk menamaiku dengan sebutan ibu? Dan jika tidak keberatan boleh aku namai suami ku dengan panggilan Ayah? Pasti kamu yang disana menggelitik tertawa melihat tingkahku. Kamu masih betah yah main disyurga sana? Sini muncul diperut ibu, kita buat syurga di dunia yang begitu lalalalalalal hhehehee.

Sayang, ibu tau kamu baik baik saja disana. Kamu pun tak bisa memaksa Dia untuk segera dititipkan disisiku. Sudah hampir sebelas bulan ibu menjadi sosok yang sangat terobsesi dengan mu. Ibu suka sekali melihat teman-temanmu yang telah lahir, mereka benar-benar mendatangkan pelangi di setiap rumah. Lebih berwarna dari sekedar lampu warna warni yang kerap menghiasi malam. Oh andai kamu dapst merasakan betapa besarnya harapan ibu akan kehadiranmu sayang.

Namun tampaknya Allah masih terlalu mencintai kita, ibu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri agar bisa menjadi madrasah di kehidupan mu nanti sayang, bahkan ayah masih diberi waktu juga untuk lebih mempersiapkan diri menjadi pemimpin keluarga seutuhnya.

Sayang, kamu gak keberatan kan kalau ibu akan lebih sering menuliskan mu surat di tiap  waktu penantian ini. Siap siap yah punya secret admire macam ibu. Im going crazy for you! I love you!

Kamis, 13 April 2017

Begitu indah pernah mengenal mu

Di keheningan dalam sudut malam aku terus mengumandangkan namamu dalam doa harapan ku pada NYA. Sebuah nama yang aku pun tak begitu tahu bait hurufnya. Nama yang kumohon-mohon kan untuk dijelaskan dipersimpangan pencarianku, penyempurna setengah nash ku.
Lalu, aku terbuai dalam sebuah bayangan yang seakan perlahan menjadi nyata. Membukakan sebuah pintu untukku. Bertanya-tanya dalam hati ini kah jawaban kumandang hening malamku?

Ah.....
Aku tak memperhatikan begitu dalam, ku ikuti rasa yang seperti berlari ingin menyudahi sebuah penantian. Aku ikuti dawai senyumnya yang ramah,
Ku mohon ampun pada Tuhan ku, kali ini aku berani untuk menyebutnya dalam doa. Berharap segala cerita syurga dari nya adalah Titah dari Mu. Oh Tuhan, Aku terbuai.
tak sabar relung ini mendengar ijab dalam Qabul Mu.
Dan.. lagi,

Suara daun kering terseret-seret dibawa angin. Angin yang dahulu nampak baik-baik saja. Angin yang selalu memelukku dalam nyamanMu. Kini seperti menusuk-nusuk jutaan pori-pori di kulitku.Betapa bodohnya aku menyerahkan semua peluk pada angin yang bahkan tak dapat kulihat. Terduduk aku diatas tanah kering yang menceritakan betapa hancurnya ia dalam sengatan matahari. Menceritakan pada ku untuk membuka mata, mengusap tangis dan menyeka kecewa dalam DamaiNya.
Tanah kering yang betapa mengertinya rasa hancur, ia bahkan tak pernah haus untuk berdoa pada Sang Hujan agar tetap menjaganya dalam gersang yang menyiksa. Aku menangis hingga air mata bertumpah ruah di atas tanah.
Perlahanpun terlihat pintu itu menutup, tanpa suara, tanpa satupun gerakan yang pernah ku lihat.

Selama ini aku berdoa dalam angkuh, meminta dan memutuskannya atas mau ku. Kembali ku tata lagi semua yang terlanjur hancur.