Di keheningan dalam sudut malam aku terus mengumandangkan namamu dalam doa harapan ku pada NYA. Sebuah nama yang aku pun tak begitu tahu bait hurufnya. Nama yang kumohon-mohon kan untuk dijelaskan dipersimpangan pencarianku, penyempurna setengah nash ku.
Lalu, aku terbuai dalam sebuah bayangan yang seakan perlahan menjadi nyata. Membukakan sebuah pintu untukku. Bertanya-tanya dalam hati ini kah jawaban kumandang hening malamku?
Ah.....
Aku tak memperhatikan begitu dalam, ku ikuti rasa yang seperti berlari ingin menyudahi sebuah penantian. Aku ikuti dawai senyumnya yang ramah,
Ku mohon ampun pada Tuhan ku, kali ini aku berani untuk menyebutnya dalam doa. Berharap segala cerita syurga dari nya adalah Titah dari Mu. Oh Tuhan, Aku terbuai.
tak sabar relung ini mendengar ijab dalam Qabul Mu.
Dan.. lagi,
Suara daun kering terseret-seret dibawa angin. Angin yang dahulu nampak baik-baik saja. Angin yang selalu memelukku dalam nyamanMu. Kini seperti menusuk-nusuk jutaan pori-pori di kulitku.Betapa bodohnya aku menyerahkan semua peluk pada angin yang bahkan tak dapat kulihat. Terduduk aku diatas tanah kering yang menceritakan betapa hancurnya ia dalam sengatan matahari. Menceritakan pada ku untuk membuka mata, mengusap tangis dan menyeka kecewa dalam DamaiNya.
Tanah kering yang betapa mengertinya rasa hancur, ia bahkan tak pernah haus untuk berdoa pada Sang Hujan agar tetap menjaganya dalam gersang yang menyiksa. Aku menangis hingga air mata bertumpah ruah di atas tanah.
Perlahanpun terlihat pintu itu menutup, tanpa suara, tanpa satupun gerakan yang pernah ku lihat.
Selama ini aku berdoa dalam angkuh, meminta dan memutuskannya atas mau ku. Kembali ku tata lagi semua yang terlanjur hancur.