25 Mei 2017
Dear malaikatku,
Ini surat kedua ibu yah. Hari ini ibu dan ayah serta keluarga makan siang bersama betapa meriahnya nak. Andai kamu telah ada. Lagi-lagi ibu ngarep yah hehehe
Pulangnya kami mampir kerumah eyang kamu, silaturahim karena lusa insha Allah ramadhan.
Sebenarnya hari ini ibu sedih, ibu mudah sekali menangis. Ayah mu sudah kesekian kalinya tak pernah bisa mendengarkan ibu. Hari ini ibu melakukan tindakan ceroboh, semoga kamu terhindar dari sifat buruk ini yah.
Ya!! Ibu meninggalkan tas dirumah eyang alhasil harus balik lagi ke rumah eyang. Dan seperti biasa, Ayah mu tak bisa membendung marahnya. Mendiamkan ibu.
Sayang, kadang ibu merasa tidak cukup kapasitAs menjalani perjalanan ini. Perjalanan pernikahan ini, ibu tak merasa bahwa ibu berarti dihidup ayah. Apa mungkin karena kami begitu cepstnya memutuskan untuk menikah? Namun banyak pasangan oada zaman Nabi Muhammad SAW tidak ada yang melalu tahap pengenalan lama dan mereka menikah. Begitu pula ibu.
Ibu mencintai ayah mu nak, sepenuh hati ibu ingin berbakti menjadi seorsng istri dan kelak seorang ibu yang baik. Dan itu tidak mudah. Namun terkadang khilaf ini memenangkan hati. Terasa Ayah mu biasa saja tak begitu mencintai ibu. Tak ada yang spesial diantara hubungan kami. Acuh.
Begitu banyak suudzon yang tak harusnya tercurah. Ibu kehilangan ayah mu nak. Maafkan ibu yang begitu berusaha ingin menjadi yang terbaik, namun mungkin penuh keinginan dicintai dengan sama. Ibu banyak sekali kekurangannya. Mau kah kamu tetap menjadi anak ibu kelak sayang? Ibu mu ini tidak terlalu memiliki bakat yang dapst dibanggakan. Tapi insha Allah sgala demi kebaikan mu akan ibu perjuangkan nak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar